Sabtu, 09 Juli 2011

Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama

Kitab Tauhid 1
oleh: Dr. Shalih bin Fauzan bin
Abdullah Al fauzan Aqidah Secara Etimologi Aqidah berasal dari kata 'aqd
yang berarti pengikatan.
Kalimat "Saya ber-i'tiqad
begini" maksudnya: saya
mengikat hati terhadap hal
tersebut. Aqidah adalah apa yang
diyakini oleh seseorang. Jika
dikatakan "Dia mempunyai
aqidah yang benar" berarti
aqidahnya bebas dari
keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu
kepercayaan hati dan
pembenarannya kepada
sesuatu. Aqidah Secara Syara' Yaitu iman kepada Allah, para
MalaikatNya, Kitab-kitabNya,
para RasulNya dan kepada Hari
Akhir serta kepada qadar yang
baik maupun yang buruk. Hal
ini disebut juga sebagai rukun iman. Syari'at terbagi menjadi dua: i'tiqadiyah dan amaliyah. I'tiqadiyah adalah hal-hal yang
tidak berhubungan dengan
tata cara amal. Seperti i'tiqad
(kepercayaan) terhadap
rububiyah Allah dan
kewajiban beribadah kepadaNya, juga beri'tiqad
terhadap rukun-rukun iman
yang lain. Hal ini disebut
ashliyah (pokok agama). (1) Sedangkan amaliyah adalah
segala apa yang berhubungan
dengan tata cara amal. Seperti
shalat, zakat, puasa dan
seluruh hukum-hukum
amaliyah. Bagian ini disebut far'iyah (cabang agama),
karena ia dibangun di atas
i'tiqadiyah. Benar dan
rusaknya amaliyah tergantung
dari benar dan rusaknya
i'tiqadiyah. Maka aqidah yang benar
adalah fundamen bagi
bangunan agama serta
merupakan syarat sahnya
amal. Sebagaimana firman
Allah Subhannahu wa Ta'ala: "Barangsiapa mengharap
perjumpaan dengan Tuhannya
maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang shalih
dan janganlah ia
mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada
Tuhannya." (Al-Kahfi: 110) "Dan sesungguhnya telah
diwahyukan kepadamu dan
kepada (nabi-nabi) yang
sebelummu: "Jika kamu
mempersekutukan (Tuhan),
niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk
orang-orang yang
merugi." (Az-Zumar: 65) "Maka sembahlah Allah
dengan memurnikan keta'atan
kepada-Nya. Ingatlah, hanya
kepunyaan Allahlah agama
yang bersih (dari syirik)." (Az-
Zumar: 2-3) Ayat-ayat di atas dan yang
senada, yang jumlahnya
banyak, menunjukkan bahwa
segala amal tidak diterima jika
tidak bersih dari syirik. Karena
itulah perhatian Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam
yang pertama kali adalah peluĀ­
rusan aqidah. Dan hal pertama
yang didakwahkan para rasul
kepada umatnya adalah
menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang
dituhankan selain Dia. Sebagaimana firman Allah
Subhannahu wa Ta'ala: "Dan
sesungguhnya Kami telah
mengutus rasul pada tiap-tiap
umat (untuk menyerukan):
'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu', ..." (An-
Nahl: 36) Dan setiap rasul selalu
mengucapkan pada awal
dakwahnya: "Wahai kaumku
sembahlah Allah, sekali-kali
tak ada tuhan bagimu
selainNya." (Al-A'raf: 59, 65, 73, 85) Pernyataan tersebut diucapkan
oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih,
Syu'aib dan seluruh rasul.
Selama 13 tahun di Makkah -
sesudah bi'tsah- Nabi
Shallallaahu alaihi wa Salam mengajak manusia kepada
tauhid dan pelurusan aqidah,
karena hal itu merupakan
landasan bangunan Islam. Para
da'i dan para pelurus agama
dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul
dalam berdakwah. Sehingga
mereka memulai dengan
dakwah kepada tauhid dan
pelurusan aqidah, setelah itu
mereka mengajak kepada seĀ­ luruh perintah agama yang
lain. (1) Syarah Aqidah Safariniyah,
I, hal. 4.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda